Tren Foto 80-an Berbasis AI Makin Populer, Begini Cara Membuatnya dan Jejak Energinya
Tren mengubah foto menjadi potret bergaya tahun 1980-an menggunakan kecerdasan buatan (AI) tengah ramai di media sosial. Pengguna cukup mengunggah foto, memberikan instruksi atau prompt, kemudian AI mengolahnya menjadi gambar dengan karakter visual masa lalu, mulai dari gaya rambut, busana, latar, warna hingga tekstur fotografi analog.
Perkembangan ini membuat siapa pun dapat bereksperimen dengan tampilan retro tanpa harus memiliki kamera atau foto asli dari era 1980-an. Layanan seperti ChatGPT dan Gemini dapat digunakan untuk menghasilkan maupun mengedit gambar berdasarkan perintah yang diberikan pengguna.
Namun, kemudahan tersebut memiliki sisi lain yang jarang terlihat. Di balik sebuah gambar yang muncul dalam hitungan detik terdapat pusat data, prosesor, perangkat penyimpanan, sistem pendingin, listrik, air, serta berbagai perangkat keras yang memungkinkan AI bekerja.
Foto AI Tidak Sepenuhnya Proses Digital
Ketika pengguna meminta AI membuat atau mengubah sebuah gambar, proses pengolahan tidak seluruhnya berlangsung di perangkat yang digunakan untuk mengakses layanan. Perintah dikirim menuju server yang berada di pusat data.
Server tersebut menjalankan model AI menggunakan prosesor khusus untuk memahami instruksi, mengolah informasi visual, kemudian menghasilkan gambar sesuai permintaan. Besarnya kebutuhan komputasi dapat berubah tergantung model AI, tingkat kerumitan pekerjaan, resolusi serta metode yang digunakan.
Penelitian Carnegie Mellon University bersama Hugging Face menunjukkan bahwa kebutuhan energi antarmodel pembuat gambar AI dapat berbeda cukup jauh. Dengan demikian, tidak tepat jika semua gambar AI dianggap menggunakan jumlah listrik yang sama.
Persoalan menjadi lebih besar ketika penggunaan dilakukan dalam jumlah sangat banyak. Tren foto 80-an, misalnya, mendorong pengguna mencoba berbagai prompt, membuat beberapa versi gambar, mengubah gaya, meningkatkan resolusi, lalu mengulangi proses sampai memperoleh hasil yang dianggap sesuai.
Jika aktivitas tersebut dilakukan jutaan pengguna secara bersamaan, kebutuhan komputasinya ikut meningkat. Foto yang terlihat sederhana pada layar ponsel atau komputer dapat merupakan hasil dari banyak proses komputasi yang berlangsung di pusat data.
Penggunaan AI juga tidak berhenti pada pembuatan foto. Teknologi generatif kini digunakan untuk menghasilkan ilustrasi, video, animasi dan berbagai bentuk konten digital lain yang dapat membutuhkan kemampuan komputasi lebih besar.
AI Juga Memerlukan Air untuk Pendinginan
Kebutuhan sumber daya AI tidak hanya berkaitan dengan listrik. Pusat data juga menghadapi persoalan panas yang dihasilkan perangkat ketika bekerja.
Server dan perangkat komputasi menghasilkan panas dalam jumlah besar sehingga membutuhkan sistem pendinginan. Air menjadi salah satu sumber yang dapat digunakan dalam sistem tersebut.
Penelitian University of California, Riverside mengenai jejak penggunaan air AI menunjukkan bahwa kebutuhan air dapat menjadi bagian penting dari dampak lingkungan teknologi tersebut. Besarnya konsumsi tetap tidak bisa disamaratakan karena dipengaruhi lokasi pusat data, teknologi pendinginan serta sumber listrik yang digunakan.
Karena faktor tersebut berbeda-beda, klaim bahwa setiap foto AI pasti menghabiskan jumlah air tertentu tidak dapat diterapkan secara umum. Pusat data dengan sistem pendinginan, lokasi dan sumber energi yang berbeda dapat menghasilkan jejak air maupun karbon yang berbeda pula.
Jejak Lingkungan Dimulai Sebelum Foto Dibuat
Dampak AI juga tidak hanya berasal dari listrik dan air yang digunakan ketika sebuah gambar diproses.
Pusat data membutuhkan GPU, server, chip, perangkat penyimpanan serta jaringan komunikasi. Seluruh perangkat tersebut harus diproduksi dan didukung rantai pasok yang panjang.
Prosesnya mencakup penggunaan bahan mentah, produksi semikonduktor, pembuatan perangkat keras, pembangunan pusat data, transportasi hingga pengelolaan perangkat ketika masa penggunaannya berakhir.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa istilah cloud computing tidak berarti data dan AI benar-benar bekerja di ruang yang tidak memiliki bentuk fisik. Sistem tersebut tetap bergantung pada gedung pusat data dan berbagai mesin yang membutuhkan energi serta sumber daya.
Badan Energi Internasional (IEA) juga memperkirakan konsumsi listrik pusat data global akan meningkat tajam hingga 2030. Perkembangan AI menjadi salah satu faktor yang mendorong bertambahnya kebutuhan komputasi.
Prompt Foto 80-an yang Bisa Dicoba
Di sisi pengguna, membuat foto bergaya 1980-an relatif sederhana. Foto yang jelas dapat diunggah ke layanan AI, kemudian diberikan instruksi yang menjelaskan tampilan yang diinginkan.
Salah satu contoh prompt yang dapat digunakan adalah:
“Using my uploaded photo, show me what I would have looked like around 1985. Preserve my identity, facial features, skin tone, age, and recognizable appearance. Reimagine my hair, clothing, accessories, and surroundings with bold, unmistakably mid-1980s styling, expressive silhouettes, statement accessories, layered details, distinctive colors, and textures. Make it feel like a genuine 1985 photograph with analog grain, faded color, direct flash, and subtle softness. No modern objects or text.”
Prompt tersebut dapat disesuaikan dengan konsep yang diinginkan. Pengguna bisa menambahkan lokasi, jenis pakaian, gaya rambut, suasana ruangan, karakter pencahayaan, jenis kamera maupun karakter warna.
Instruksi yang lebih spesifik biasanya membantu AI memahami arah visual yang diinginkan. Jika hasil belum sesuai, pengguna dapat memberikan perintah tambahan seperti mempertahankan wajah asli, membuat hasil lebih realistis atau mengubah latar menjadi ruang tertentu yang sesuai dengan era 1980-an.
Cara Membuat Foto 80-an di ChatGPT
Pengguna dapat mencoba membuat foto retro melalui ChatGPT dengan langkah berikut:
- Buka aplikasi ChatGPT atau akses laman ChatGPT.
- Unggah foto yang ingin diubah melalui kolom percakapan.
- Masukkan prompt dengan konsep foto 1980-an yang diinginkan.
- Tunggu AI memproses gambar.
- Periksa hasil sebelum menyimpannya atau membagikannya.
Pada fitur pembuatan gambar yang tersedia, pengguna juga dapat memilih konsep visual tertentu jika opsi tersebut muncul pada akunnya.
Cara Membuat Foto 80-an di Gemini
Gemini juga dapat digunakan untuk mengolah foto menjadi gaya retro. Caranya antara lain:
- Buka aplikasi Gemini atau laman Gemini.
- Pilih fitur untuk membuat gambar.
- Unggah foto dari perangkat.
- Masukkan prompt yang menjelaskan gaya 1980-an.
- Tunggu proses pembuatan gambar selesai.
- Periksa hasil dan simpan jika sudah sesuai.
Gemini juga dapat digunakan untuk menghasilkan variasi berdasarkan instruksi tambahan. Pengguna bisa mengubah pakaian, latar, pencahayaan atau suasana tanpa harus membuat konsep baru dari awal.
Tren Foto Bollywood 80-an Ikut Ramai
Selain gaya retro umum, foto dengan sentuhan Bollywood era 1980-an juga menjadi salah satu variasi yang banyak dibuat menggunakan AI.
Konsepnya dapat mengubah foto modern menjadi potret yang menyerupai karakter film India lawas. Gaya tersebut bisa menampilkan rambut bervolume, saree, perhiasan emas, busana pria era 1980-an, suasana disko, poster film, hingga foto album keluarga.
Contoh prompt untuk gaya heroine Bollywood klasik antara lain:
“Transform this photo into a classic 1980s Bollywood heroine portrait. Keep the person’s facial features, face shape, skin tone and identity unchanged. Give her voluminous 1980s hair, expressive eyes, a traditional silk saree, gold earrings and soft studio makeup. Use warm vintage studio lighting, subtle film grain and slightly faded colours. Make it look like an authentic Indian film photograph from the 1980s, without modern objects or styling.”
Sementara untuk karakter pria, pengguna dapat memberikan instruksi seperti:
“Transform this photo into a classic 1980s Bollywood hero portrait. Preserve the person’s facial features and identity. Add neatly styled 1980s hair, a thick moustache, a tucked-in shirt, high-waisted trousers and a vintage watch. Use warm studio lighting, soft shadows, slightly faded colours and realistic 35mm film grain. Make the image look like a genuine 1980s Indian cinema publicity photograph.”
Variasi lainnya dapat diarahkan menjadi adegan disko, sampul majalah film India, album pernikahan, foto keluarga, potret kamera film 35 mm, poster film Bollywood atau potongan adegan film fiktif era 1980-an.
Periksa Hasil Sebelum Dibagikan
Foto hasil AI tetap merupakan gambar digital, bukan dokumentasi asli dari tahun 1980-an. Karena itu, hasilnya perlu diperiksa sebelum dipublikasikan.
Bagian yang perlu diperhatikan antara lain bentuk wajah, jari, tangan, perhiasan, pakaian, tulisan di latar belakang serta objek lain yang mungkin berubah selama proses pembuatan gambar.
Pengguna juga sebaiknya memberikan keterangan bahwa gambar tersebut merupakan hasil kreasi AI apabila dibagikan di media sosial. Langkah ini membantu membedakan rekayasa visual dengan foto dokumentasi asli.
Bukan Berarti Harus Berhenti Menggunakan AI
Kemunculan jejak lingkungan tersebut tidak serta-merta berarti pengguna harus berhenti membuat foto AI. Membuat satu atau beberapa gambar tidak dapat diposisikan sebagai penyebab utama persoalan lingkungan.
Hal yang lebih penting adalah akumulasi penggunaan dalam skala besar dan bagaimana industri AI mengelola sumber daya yang dibutuhkan.
Model yang lebih efisien dapat mengurangi kebutuhan komputasi. Pusat data yang menggunakan sumber energi rendah karbon berpotensi menekan emisi, sementara teknologi pendinginan yang lebih hemat air dan pemanfaatan kembali air dapat mengurangi tekanan terhadap sumber daya air.
Karena itu, tanggung jawab tidak hanya berada di tangan pengguna. Perusahaan teknologi juga memiliki peran dalam mengembangkan model AI, chip, pusat data dan sistem pendingin yang lebih efisien.
Tren foto 1980-an pada akhirnya menjadi contoh kecil dari perubahan cara manusia menggunakan teknologi komputasi. Hari ini bentuknya foto retro, tetapi penggunaan AI terus berkembang ke video, animasi, konten 3D hingga simulasi yang membutuhkan kemampuan pemrosesan jauh lebih besar.